Bahasa memiliki sifat yang dinamis. Ia terus berkembang mengikuti zaman, menyesuaikan kebutuhan pengguna bahasa itu sendiri. Maka, lahirlah istilah bahasa prokem dan—yang paling baru—bahasa “alay” alias bahasa “anak lebay”. Keduanya termasuk dalam bahasa slang, yakni bahasa pergaulan yang ngetren di kalangan anak muda.
Jenis bahasa prokem sudah kita kenal sebelumnya, yakni kira-kira pada 1970-an.Teguh Esha dalam novelnya yang berjudul Ali Topan Anak Jalanan pertama kali mengenalkan istilah bahasa prokem ini. Bahasa prokem ini sendiri mulanya untuk menyebut istilah bahasa preman. Beberapa istilah dalam bahasa prokem yang masih dipertahankan hingga saat ini di antaranya “bokap” (bapak), “nyokap” (ibu), “doku” (duit/uang), “doi” (dia), dan “culun” (lugu).
Sementara itu, bahasa “alay” mulai berkembang di masyarakat sejak kemunculan internet dan telepon seluler, yakni mulai tahun 2000-an, ketika anak-anak muda mulai gemar mengobrol (chatting) di dunia maya (internet). Gaya bahasa “alay” misalnya pada penggunakan kata seperti “akuwh”, “akyu”, “aq” (aku); “cowwy”, “sowry” (sorry/maaf), dan sebagainya.
Sebenarnya kehadiran bahasa slang tak pernah menjadi soal bagi bahasa Indonesia. Mengingat sifat bahasa yang dinamis itu tadi, ragam bahasa slang tersebut berterima untuk memenuhi kebutuhan penggunanya. Namun, bahasa slang mulai terasa “mengancam” bahasa Indonesia begitu kehadirannya (bahasa slang) terlalu menarik perhatian masyarakat sehingga membuat mayarakat lebih menyenangi penggunaan bahasa slang ketimbang ragam bahasa Indonesia yang formal (baku).
Ragam bahasa Indonesia yang formal dianggap kaku dan tidak laku. Begitu menurut budayawan Remy Silado. Hal itu yang menyebabkan anak-anak muda tidak begitu menyenangi bahasa Indonesia yang baku. Karena itu pula anak-anak muda—yang menyenangi sesuatu yang dinamis dan inovatif—itu mencari hal-hal baru, salah satunya menggunakan bahasa slang tersebut.
Tak jarang penulis menemukan bahasa Indonesia disepelekan oleh sebagian besar orang. Mahasiswa yang berkuliah di Jurusan Bahasa Indonesia sering mendapat “perlakuan tak menyenangkan” dari sebagian besar orang tersebut lantaran keputusannya (mahasiswa) berkuliah di jurusan itu dinilai tidak tepat. Mereka—sebagian besar orang yang menyepelekan bahasa Indonesia itu—menganggap bahasa Indonesia bukanlah sebuah bidang keilmuan yang perlu ditekuni dengan serius karena bahasa (bahasa Indonesia) itu adalah bahasa yang kita pergunakan sehari-hari. Menurut mereka, kecil kemungkinan kita melakukan kesalahan berbahasa Indonesia karena bahasa itu kita pergunakan sehari-hari.
Penyepelean terhadap ragam bahasa Indonesia yang baku tersebut kemudian menjadi bumerang bagi anak-anak muda sendiri. Kementerian Pendidikan Nasional melansir, sekitar 14 ribu dari 26 ribu siswa yang tak lulus ujian nasional terjanggal di pelajaran bahasa Indonesia. (Koran Tempo, edisi nomor 3177 tahun X). Artinya, lebih dari 50 persen siswa tak lulus ujian nasional gara-gara bahasa Indonesia.
Fenomena ini semestinya menjadi pukulan telak bagi kita semua. Bahasa Indonesia yang merupakan bahasa negara kita, bahasa persatuan kita, malah menjadi ‘batu sandungan’ bagi masyarakatnya sendiri. Ini sebagai bukti bahwa bahasa Indonesia tidak bisa disepelekan begitu saja. Semestinyalah kita menjunjung bahasa persatuan kita. Apabila kita menengok bagaimana perjuangan para pemuda pada 28 Oktober 1928 lalu yang berjuang mati-matian untuk mengikrarkan Sumpah Pemuda, malu rasanya menyepelekan bahasa Indonesia.
Terkait dengan kehadiran bahasa slang yang disinggung di muka, menurut hemat penulis, penggunaan bahasa slang itu tak menjadi soal sejauh kita tak melupakan ragam bahasa Indonesia yang baku. Jadi, utamanya, kuasai juga ragam baku bahasa Indonesia. Di sinilah pentingnya nasionalisme dalam berbahasa Indonesia. Buat apa pandai bersilat lidah dalam bahasa gaul—demi dibilang “keren”—tapi bahasa Indonesianya kacau?
Masalah bahasa ini adalah masalah ranah. Semua ada tempatnya. Kita tidak bisa menafikan ragam formal (ragam baku) yang ada di lingkungan kita. Tak mungkin kan buku-buku teks yang ditulis dalam bahasa Indonesia disampaikan dengan bahasa gaul. Atau, apa jadinya kalau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pidato kenegaraannya dalam bahasa pergaulan sehari-hari, bahasa prokem misalnya. Nah, lho.
Ini ruang ekspresi, wahana berbagi...
Ini gejolak yang terjadi dalam diri,
Ini dia tanda eksistensi diri,
Hehe...
Mari menengok Nurhandayani!!!
Ini gejolak yang terjadi dalam diri,
Ini dia tanda eksistensi diri,
Hehe...
Mari menengok Nurhandayani!!!
Ini buku tulisku, ini diary-ku...
Kamis, 03 Juni 2010
Kamis, 27 Mei 2010
Yang Tersisa dari Kuliah Kajian Puisi
Mulanya hanya "iseng" ajari kawan membuat blog.
Padahal gw juga sama begonya sama dia, sama-sama masih pemula di dunia blog. qeqeqeqeqe
Aku pun mengajarinya sebisaku.
Singkat cerita, blog-nya sudah jadi dan ia ingin mem-posting tulisannya ke blog-nya.
Owh, dia ingin memasukkan puisi rupanya!! :)
Penasaran dengan puisi yang akan di-posting-nya, iseng kulirik puisinya.
Aku terperanjat. Itu kan kumpulan puisi kawan-kawan di Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2006 di kampusku saat kuliah Apresiasi Puisi dulu!!
Uhuy, rupanya dia masih menyimpan data-data itu.
Luar biasa ukhti ini. Ketika kawan-kawan seangkatan--mungkin juga dosen yang bersangkutan--lupa bahwa kami pernah ditugasi membuat puisi, dia masih menyimpan datanya. Lengkap! Semua puisi mahasiswa BI '06 yang mengikuti kuliah itu ada semua padanya.
Nah, puisiku juga ada di sana.
Ini dia puisiku. puisi ini sempat menarik memoriku pada kenangan yang mengilhami terciptanya puisi ini dulu...
Buat kawan-kawan BI '06 yang ingin bernostalgia dengan puisi-puisinya yang dibuat dulu (saat kuliah Apresiasi Puisi dengan Pak Munaris), mintalah datanya pada kawan kita: Susi Desita Wika...
Padahal gw juga sama begonya sama dia, sama-sama masih pemula di dunia blog. qeqeqeqeqe
Aku pun mengajarinya sebisaku.
Singkat cerita, blog-nya sudah jadi dan ia ingin mem-posting tulisannya ke blog-nya.
Owh, dia ingin memasukkan puisi rupanya!! :)
Penasaran dengan puisi yang akan di-posting-nya, iseng kulirik puisinya.
Aku terperanjat. Itu kan kumpulan puisi kawan-kawan di Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2006 di kampusku saat kuliah Apresiasi Puisi dulu!!
Uhuy, rupanya dia masih menyimpan data-data itu.
Luar biasa ukhti ini. Ketika kawan-kawan seangkatan--mungkin juga dosen yang bersangkutan--lupa bahwa kami pernah ditugasi membuat puisi, dia masih menyimpan datanya. Lengkap! Semua puisi mahasiswa BI '06 yang mengikuti kuliah itu ada semua padanya.
Nah, puisiku juga ada di sana.
Ini dia puisiku. puisi ini sempat menarik memoriku pada kenangan yang mengilhami terciptanya puisi ini dulu...
Buat kawan-kawan BI '06 yang ingin bernostalgia dengan puisi-puisinya yang dibuat dulu (saat kuliah Apresiasi Puisi dengan Pak Munaris), mintalah datanya pada kawan kita: Susi Desita Wika...
Payung Biru
Lima tahun lalu / di bawah payung biru /
Lebat hujan / siram jalanan sepi /
dan mencekam. Malam tambah
pekat / tambah mencekam /
tambah mencekam /
tambah
mencekam /
begitu
mencekam. /
Hingga tak siapa
mau bercengkerama. / Tinggal
dua anak manusia / di bawah payung
biru. / dalam beku, / dingin. / Terasa kilat
memutus pandangan mesra. / Terasa setitik hujan
dinginkan bara. / di bawah payung biru / yang punya
cerita / tenggelamnya asa. / Akhir rasa, / akhir cerita
Senin, 17 Mei 2010
Tentang anak yang berjualan koran dan adikku
Dengan menahan kantuk yang teramat berat, tersuruk-suruk aku menyusuri trotoar kampus. Kantuk ini tak 'kan lagi bisa kutahan. Bagaimana tidak, aku tak mengistirahatkan diri selama 24 jam. Seusai dari kantor aku langsung ke PKM, mengecek tulisan kawan-kawan yang segera akan dicetak untuk dibikin tabloid dwimingguan.
Maka, kuniatkan, begitu sampai di rumah nanti, 'kan kumanjakan diri ini dengan tidur sepuasnya. Hah!
Melelahkan sekali mengoreksi tulisan kawan-kawan yang luar biasa berantakan itu. Secara substansial tulisan mereka memang bagus--meski ada juga yang nyeleneh. Tapi cara penyampaiannya sungguh membikin pusing kepala. Klausa-klausa dibiarkan bertumpuk-tumpuk dalam satu kalimat. Sebagai pembaca--yang membaca tulisan mereka lebih duluan dari teman-teman mahasiswa lainnya--aku hanya menggelengkan kepala berkali-kali. Bagaimana mungkin bisa kutangkap maksud yang ingin disampaikan kawan-kawanku itu bila dalam satu kalimat saja ada begitu banyak ide yang mereka jejalkan?
Huft, capek deh... Jangan banyak ngeluh cay... Itu udah jadi kewajiban ente untuk ngebetulin tulisan mereka dari segi kebahasaan! Inget kagak kalo' ente dulu pernah punya keinginan untuk ngebetulin tulisan mereka dari segi kebahasaan? Waktu tes wawancara masuk "sekolah" itu dulu...
Inget kagak???
Ya, aku merasa bertanggung jawab, sangat merasa bertanggung jawab...
Sudah lama sebenarnya aku ingin melakukannya. Tapi aku memang tak punya keberanian untuk menyuarakan keinginanku, pandangan-pandanganku. Bahkan, sekadar untuk berkata "tidak" saja, aku tak punya nyali!!
Hah! Pengecut! Penakut!
Ah, sudahlah...
Ya, belakangan ini aku tengah belajar untuk lebih berani, dalam hal apa pun...
Hoah...
Ini kantuk sungguh tak tertanggungkan lagi. Angkutan kota yang jalur operasionalnya searah dengan rumahku tiba-tiba mencegatku yang sedari tadi celingukan mencari-cari angkutan. Segera saja aku naiki angkutan yang sudah terisi beberapa orang di dalamnya.
Hm, mereka cantik-cantik, tampan-tampan, dan wangiiiiiiiiii...
Tak sepertiku yang kumal dan berantakan karena belum mandi, hahahaha
Angkutan yang kutumpangi pun melaju seiring angin yang berhembus dingin menusuk-nusuk wajahku dari jendela angkutan yang kubiarkan terbuka.
Kulayangkan pandangan ke luar jendela...
Sepasang mataku yang mengantuk tertumbuk pada bayangan dua sosok anak laki-laki yang duduk di trotoar, persis di dekat kediaman rektor, dekat masjid kampus itu. Kulirik jam di telepon selularku. Pukul 06.30...
Sepagi ini, sedang apa keduanya di situ? Tidakkah mereka bersekolah? Bukankah seharusnya mereka di sekolah pada jam-jam begini? Atau setidaknya mereka seharusnya tengah bersiap-siap untuk ke sekolah? Aku memperkirakan keduanya baru bersekolah di bangku SD kelas II atau kelas III...
Keduanya duduk di trotoar itu dengan setumpuk koran di pangkuan mereka. Pandangan keduanya menyiratkan sedang menunggu sesuatu, atau seseorang...
Ya, tentu saja, pastilah mereka sedang menunggu orang yang mau membeli koran mereka itu...
Bayangan mereka berkelebat di pikiranku. Angkutan yang membawaku menuju rumah lambat laun memang telah meninggalkan mereka yang membisu di trotoar itu, namun pikiranku seakan tak mau lepas dari keduanya...
Terbayang olehku bagaimana mereka duduk di sana, memangku koran, memandang hampa ke jalanan, menunggu seseorang yang akan membeli koran mereka...
Mengapa mereka di sana? Mengapa mereka berjualan koran? Mengapa?
Bayangan tentang dua anak itu masih terus berkelebat sampai aku tiba di rumah.
Setibanya aku di rumah, kudapati adikku, si bungsu, tengah menonton film kartun kesayangannya, Spongebob Squarepants. Tiba-tiba perasaan ini tak menentu.
Aku tak ingin adikku seperti kedua anak yang berjualan koran di kampus tadi...
Kuacak rambutnya yang berantakan karena belum mandi. "Dek, mandi gih, ke sekolah..."
Ia hanya berkilah, "Nantilah...", tapi aku sayang padanya.
Maka, kuniatkan, begitu sampai di rumah nanti, 'kan kumanjakan diri ini dengan tidur sepuasnya. Hah!
Melelahkan sekali mengoreksi tulisan kawan-kawan yang luar biasa berantakan itu. Secara substansial tulisan mereka memang bagus--meski ada juga yang nyeleneh. Tapi cara penyampaiannya sungguh membikin pusing kepala. Klausa-klausa dibiarkan bertumpuk-tumpuk dalam satu kalimat. Sebagai pembaca--yang membaca tulisan mereka lebih duluan dari teman-teman mahasiswa lainnya--aku hanya menggelengkan kepala berkali-kali. Bagaimana mungkin bisa kutangkap maksud yang ingin disampaikan kawan-kawanku itu bila dalam satu kalimat saja ada begitu banyak ide yang mereka jejalkan?
Huft, capek deh... Jangan banyak ngeluh cay... Itu udah jadi kewajiban ente untuk ngebetulin tulisan mereka dari segi kebahasaan! Inget kagak kalo' ente dulu pernah punya keinginan untuk ngebetulin tulisan mereka dari segi kebahasaan? Waktu tes wawancara masuk "sekolah" itu dulu...
Inget kagak???
Ya, aku merasa bertanggung jawab, sangat merasa bertanggung jawab...
Sudah lama sebenarnya aku ingin melakukannya. Tapi aku memang tak punya keberanian untuk menyuarakan keinginanku, pandangan-pandanganku. Bahkan, sekadar untuk berkata "tidak" saja, aku tak punya nyali!!
Hah! Pengecut! Penakut!
Ah, sudahlah...
Ya, belakangan ini aku tengah belajar untuk lebih berani, dalam hal apa pun...
Hoah...
Ini kantuk sungguh tak tertanggungkan lagi. Angkutan kota yang jalur operasionalnya searah dengan rumahku tiba-tiba mencegatku yang sedari tadi celingukan mencari-cari angkutan. Segera saja aku naiki angkutan yang sudah terisi beberapa orang di dalamnya.
Hm, mereka cantik-cantik, tampan-tampan, dan wangiiiiiiiiii...
Tak sepertiku yang kumal dan berantakan karena belum mandi, hahahaha
Angkutan yang kutumpangi pun melaju seiring angin yang berhembus dingin menusuk-nusuk wajahku dari jendela angkutan yang kubiarkan terbuka.
Kulayangkan pandangan ke luar jendela...
Sepasang mataku yang mengantuk tertumbuk pada bayangan dua sosok anak laki-laki yang duduk di trotoar, persis di dekat kediaman rektor, dekat masjid kampus itu. Kulirik jam di telepon selularku. Pukul 06.30...
Sepagi ini, sedang apa keduanya di situ? Tidakkah mereka bersekolah? Bukankah seharusnya mereka di sekolah pada jam-jam begini? Atau setidaknya mereka seharusnya tengah bersiap-siap untuk ke sekolah? Aku memperkirakan keduanya baru bersekolah di bangku SD kelas II atau kelas III...
Keduanya duduk di trotoar itu dengan setumpuk koran di pangkuan mereka. Pandangan keduanya menyiratkan sedang menunggu sesuatu, atau seseorang...
Ya, tentu saja, pastilah mereka sedang menunggu orang yang mau membeli koran mereka itu...
Bayangan mereka berkelebat di pikiranku. Angkutan yang membawaku menuju rumah lambat laun memang telah meninggalkan mereka yang membisu di trotoar itu, namun pikiranku seakan tak mau lepas dari keduanya...
Terbayang olehku bagaimana mereka duduk di sana, memangku koran, memandang hampa ke jalanan, menunggu seseorang yang akan membeli koran mereka...
Mengapa mereka di sana? Mengapa mereka berjualan koran? Mengapa?
Bayangan tentang dua anak itu masih terus berkelebat sampai aku tiba di rumah.
Setibanya aku di rumah, kudapati adikku, si bungsu, tengah menonton film kartun kesayangannya, Spongebob Squarepants. Tiba-tiba perasaan ini tak menentu.
Aku tak ingin adikku seperti kedua anak yang berjualan koran di kampus tadi...
Kuacak rambutnya yang berantakan karena belum mandi. "Dek, mandi gih, ke sekolah..."
Ia hanya berkilah, "Nantilah...", tapi aku sayang padanya.
Sabtu, 17 April 2010
Kamis, 25 Maret 2010
Cerpen Pertamaku

Kawan-kawan, saat ini aku lagi belajar menulis cerpen. Alhamdulillah, cerpen pertamaku dimuat di salah satu surat kabar daerah di Lampung.
Nah, ini dia nih cerpen pertamaku.
Karena masih pemula, jadi maklum aja ya kalo' tak bagus-bagus amat yah, hehehe...
Sunday, February 21, 2010
Biola Tua dan Sepotong Mimpi
Cerpen NurhandayaniSUARA merdu yang mengalun dari gesekan biolamu selalu dapat membawaku kepada mimpi-mimpi terdahulu, yang pernah kugantungkan pada langit-langit dan kulupakan begitu saja. Untuk alasan yang tak pernah kumengerti, tak kulanjutkan mimpi itu. Mimpi itu pun terlupakan sampai akhirnya aku menemukanmu.
Dan kini mimpi itu mencuat kembali...
"Aku mau belajar main biola. Ajari aku," pintaku padamu suatu petang.
Kala itu aku duduk di hadapanmu, terkesima pada permainanmu, tertegun melihatmu memainkan lagu kesenanganmu dengan biola tua itu.
"Ehm, boleh. Tapi gimana caranya? Aku kan cuma punya satu biola..." tanyamu.
"Hm, kita bisa gantian kan? Ajari aku, ya? Mau ya?"
Kau tak mampu menolak pintaku. Kau hanya mengangguk sambil menyunggingkan senyum khasmu.
Tak pernah aku segirang ini, mendapati kesempatan mewujudkan mimpi yang lama terendap itu...
***
Entah bagaimana kita tiba-tiba jadi sedekat ini. Dulu tidak. Kau senang membunuh waktu dengan teman-teman sebayamu. Bersenda gurau, tertawa, tak menghiraukan orang lain di sekitar kalian yang mungkin terusik.
Tanpa kausadari, waktulah yang sebenarnya telah membunuhmu... Sementara aku lebih suka kesendirian, menyepi, menulis diari...
"Ngok...ngik...ngok..."
Di tanganku biolamu berdecit sumbang seperti derit pintu yang rusak.
Astaga, bukan main stresnya aku di hari pertamaku belajar bermain biola.
Perlahan dan ragu kugesek dawai biolamu. Betapa pun aku berusaha berhati-hati agar dapat menghasilkan suara yang merdu, tetap saja biolamu tak mau bekerja sama denganku. Ia menjerit seakan tak mau kumainkan.
"Kalau biola ini bisa bicara, dia pasti sudah berontak meminta aku berhenti memainkannya..." keluhku ketika aku mulai putus asa.
"Ya, namanya juga baru belajar. Mana ada orang yang belajar langsung bisa. Jangan nyerah dong..."
"Bunyinya kok aneh begini, ya? Bunyinya aneh, kayak..."
Aku terus menggerutu. Aku tak mampu menemu diksi yang tepat untuk melukiskan keherananku pada biola yang tak mau bersuara merdu di tanganku itu.
Lantas dengan sabar engkau tunjukkan cara memegang bow--alat penggesek biola yang menyerupai busur--dengan benar. Karena hanya ada satu biola, kau dan aku bergantian memainkannya.
"Cara menggeseknya jangan ragu-ragu dan terlalu lambat. Tadi itu gesekannya kurang tekanan...
Ehm, kau tahu, Nis? Aku belajar sesuatu dari biola ini."
"Apa?"
"Belajar biola sama halnya dengan belajar menjadi tegas."
"Kok bisa?"
"Ya, karena memainkan biola membutuhkan ketegasan untuk membuat gesekan dan tekanan yang tepat. Dalam permainan biola, ketegasan dalam membuat tekanan yang tepat itu perlu sekalipun kau bermaksud menghasilkan nada yang lembut..."
Aku terdiam demi mencerna kata-katamu. Tak mengerti dengan apa yang kauucapkan, kulanjutkan usahaku untuk dapat menghasilkan nada-nada dasar dengan tepat.
Ketika aku berusaha menghasilkan bunyi do tinggi, biolamu meraung lagi. Kulirik dirimu tengah mencoba menyembunyikan tawa yang nyaris meledak.
Aku tahu. Itu nada tersumbang yang pernah kuhasilkan selama aku berlatih padamu.
***
Kecerdasan musikalmu selalu dapat membuatku tertegun-tegun, mencuatkan anganku ingin bisa mengalahkan permainan biolamu. Atau paling tidak bisa menyamai kemahiranmu.
Lantas, ketika aku tengah terkagum-kagum di sela permainanmu, seringnya tanpa kusadari aku mendapati diriku sendiri bergumam, "Kapan ya aku bisa sehebat kamu?"
Kau tergelak.
"Makanya, jangan mudah nyerah," katamu singkat.
Untuk menemani latihanku kali ini, engkau membuatkan dua cangkir kopi. Satu untukku, satu lagi untukmu sendiri.
Tanpa menghiraukan uap panas yang masih mengepul, kuraih kopi yang kau sajikan untukku. Kuseruput...
Hm, manis sekali kopi buatanmu.
Sebenarnya aku tak suka manis. Namun demi menghormatimu, aku berpura-pura menikmatinya.
Kuraih biola yang tersandar di kursi anyaman di sisimu. Aku mulai menggesek-gesekkan bow di atas dawai biola tuamu, berkonsentrasi pada bunyi-bunyi yang kuhasilkan.
"Untuk memainkan biola, kau harus mengenal setiap nada dengan baik. Kau mesti tahu perbedaan setiap nada. Yang diutamakan adalah kemampuan mendengarkan perbedaan setiap bunyi," uraimu seraya tetap asyik dengan petikan gitar akustikmu.
"Menggunakan feeling maksudnya?"
Kau mengangguk.
Aku mengernyit, berkonsentrasi pada bunyi-bunyi yang kuhasilkan dari gesekan biolaku. Berulang-ulang nada yang kuhasilkan meleset. Untuk menghasilkan nada-nada dasar dengan tepat, aku mesti mengulang berkali-kali.
Rasa pegal mulai menjalar di lengan kiriku karena menahan tubuh biola berjam-jam. Pundak kiriku pun luar biasa pegalnya karena terus-menerus menjepit pantat biola selama berlatih.
Kau tersenyum hangat melihatku hampir menyerah. Kuberikan biola kepadamu. "Giliranmu..."
"Pegal? Lama-lama juga terbiasa," ujarmu seraya mulai memainkan lagu-lagu klasik yang biasa kau mainkan.
Aku takjub mendengar bagaimana biola itu mendendangkan suara yang merdu. Di tanganmu, biola itu mau bernyanyi dengan indah. Turun naik kau mainkan bow di atas senar biolamu. Jemari kirimu menari-nari dengan lincahnya di sepanjang leher biola seakan bergerak sendiri tanpa instruksi darimu.
Sebentar-sebentar jemarimu menggetar-getarkan dawai, memainkan teknik vibrato, menghasilkan nada yang begitu lembut. Tak ada bunyi yang sumbang. Tak ada nada yang meleset. Sempurna!
Selama bermain, sepasang mata sayumu terpejam, entah dirimu berusaha berkonsentrasi pada nada-nada yang kaucoba hasilkan ataukah kau tengah menikmati permainanmu sendiri??
Kurang dari sepuluh menit engkau membuka mata. Kau usaikan permainanmu.
Andai saja engkau melihatnya, engkau akan mendapatiku tengah terpesona padamu, masih mabuk dengan sisa-sisa kekagumanku padamu tadi.
"Ayo, coba lagi! Dengarkan nadanya, rasakan perbedaannya. Gunakan pendengaran, perasaanmu, bukan penglihatan..."
Kuraih biola yang kausodorkan padaku.
Aku memejam mata, mencoba meniru caramu bermain, mulai membuat gesekan-gesekan di atas dawai biolamu.
Biolamu meraung-raung lagi di tanganku.
***
Kali ini aku bermain lebih baik dari minggu-minggu sebelumnya. Aku mulai pandai menghasilkan nada-nada dasar dengan tepat.
"Coba mainkan sebuah lagu."
Aku tercenung. Lagu apa ya yang mau kumainkan?
"Aku kan masih pemula. Mana bisa aku mainkan lagu-lagu klasik seperti yang biasa kau mainkan. Itu kan susah..."
"Belajar dari yang mudah dulu. Coba mainkan melodi Ibu Kita Kartini."
Aku menurut. Kucoba mainkan lagu yang kauminta dengan nada yang terpatah-patah. Berkali-kali aku keliru membunyikan beberapa nada.
Aku nyaris putus asa. Kulihat kau hanya tersenyum menyaksikan permainanku yang buruk.
"Aku memang tak berbakat," keluhku seusai permainanku.
"Kau berbakat."
"Bohong!"
"Tidak. Aku sungguhan."
Aku memberengut, memeluk biolamu, mengelus-elusnya dengan perasaan putus asa.
Melihatku putus asa, kau tergelak.
"Pasti bisa, asal jangan menyerah. Kamu tahu Nisa? Aku tak berguru dengan siapa pun saat belajar biola. Tak ada yang mengajariku. Kau punya aku. Ada aku yang akan mengajarimu. Kau punya bakat.
Ah, jangan risaukan bakat kalau kau merasa tak berbakat. Lagi pula bakat bukan syarat utama keberhasilan seseorang. Yang penting kau mau berusaha.
Kau punya mimpi. Kau punya semangat. Nah, tunggu apa lagi? Wujudkan saja mimpimu..."
Aku tertegun mencerna kata-katamu.
"Ehm, apa impianmu?"
Kau menggosok tali busur biolamu dengan rosin. Katamu, sebelum bermain, tali busur perlu digosok dengan rosin agar peret. Sementara aku duduk di kursi anyaman di hadapanmu, memandang polos setiap gerakan tanganmu yang begitu terampil menggosokkan rosin pada tali busur biolamu.
"Aku tidak akan berhenti bermain biola sampai aku bisa melebihi Hendri Lamiri. Aku ingin suatu saat nanti bisa bermain biola dengan biolis-biolis hebat, seperti Hendri Lamiri itu..."
Setelah kaurasa tali busur biola itu peret, kau menjajalnya.
Lantas kau mengakhiri sesi latihanku hari itu dengan memainkan melodi Rayuan Pulau Kelapa, yang mampu membangkitkan rasa nasionalisme bagi siapa pun yang mendengarnya. Spontan kuraih gitar yang bergeming sejak tadi di sisi kursi anyaman di sisimu. Kuiringi permainan biolamu dengan petikan gitarku yang tak bagus-bagus amat.
Aku ingin melihatmu menggapai mimpimu...
***
Aku tergesa. Berlari di antara kerumunan orang yang lalu lalang di rumah sakit itu.
SMS dari kakak perempuanmu pagi tadi mengejutkanku.
Jantungku berdegup kencang mendengar kabar sebuah truk menabrak sepeda motor yang kau kendarai saat kau hendak ke kampus pagi tadi. Sialnya, sopir truk yang menabrakmu pergi meninggalkanmu begitu saja terkapar di jalan.
Aku lekas menuju ruangan tempatmu dirawat.
Setibanya aku di ruangan itu, aku mendapati keluargamu berkumpul mengelilingimu, menangisi keadaanmu.
Sementara kau tergolek di ranjangmu. Wajahmu penuh luka. Perban yang membungkus paha kiri, kedua kaki, dan lengan kananmu basah oleh darahmu sendiri yang merembes.
Perban yang melingkar di kepalamu pun tinggal sebagian kecil saja daerah yang masih terlihat putih, selebihnya didominasi merah darah yang mengucur deras dari kepalamu.
Dan, astaga, lengan kirimu paling banyak mengeluarkan darah...
Aku terhenyak melihat keadaanmu.
"Kata dokter, lengan kirinya patah..." bisik kakak perempuanmu dengan menahan isaknya.
***
Kau jadi pemurung semenjak kecelakaan itu.
"Aku tidak akan bisa bermain biola lagi..." ujarmu parau ketika aku--untuk ke sekian kalinya--ke rumahmu untuk melihat keadaanmu.
Bim, kau membuatku cemas...
Aku bisa merasakan kepedihan yang mendalam dari suaramu yang bergetar.
Kecelakaan itu telah membuat lengan kirimu patah. Kenyataan bahwa kau tak bisa menggunakan lengan kirimu untuk bermain biola telah membuatmu menjadi sosok yang rapuh.
Dan yang terparah, kecelakaan itu telah merenggut semangatmu...
"Tapi kata dokter kau masih bisa sembuh, Bima."
"Itu hanya kata-kata penghibur! Aku bukan anak kecil yang tak bisa menerima kenyataan, yang harus dibohongi hanya untuk membesarkan hatinya!!!"
"Bukan dokter yang berkuasa menyembuhkan, tapi Tuhan. Dokter boleh berkata kau tak kan sembuh, tapi kita tetap harus mencoba segala cara agar lengan kirimu pulih. Kita bisa coba pengobatan alternatif mungkin...?"
Belum sempat kutuntaskan kalimatku, dengan gerakan tak terduga kau meraih bahuku dengan tangan kananmu yang tak cedera dan mengguncangnya dengan keras, "Aku cacat Nisa! Apa kau tidak mengerti? Sekarang aku cacat! Aku tak kan bisa bermain biola lagi!"
Nada suaramu meninggi seiring bulir-bulir bening yang menderas dari mata sayumu, membentuk aliran sungai kecil di pipimu yang cekung.
Lantas dengan kasar kauempaskan bahuku, berbalik memunggungiku.
Aku hanya bergeming menatap ketakberdayaanmu, seperti biola tua yang tergolek membisu di sudut kamarmu itu.
Kulihat bahumu terguncang, aku tahu kau berusaha menyembunyikan tangismu. Namun seperti juga isakmu, tak pernah isakku sedalam ini.
Kesakitanmu adalah kesakitanku, Bima...
Aku berjalan ke arahmu, membuat jarak di antara kita sedekat mungkin. Penuh kehatian-hatian kusentuh bahumu.
"Aku tahu ini berat buatmu. Kau tidak cacat. Jangan menyerah dulu, Bima..."
Tiba-tiba kau berbalik dan memelukku dengan gerakan yang kaku. Lengan kirimu tak memungkinkanmu leluasa untuk memelukku. Segera saja kau membasahi pundakku dengan tangis yang tak mampu lagi kaubendung.
"Maafkan aku Nisa..."
"Jangan menyerah, Bima. Kau punya semangat. Kau punya mimpi. Kau tahu bahwa menggapai mimpi itu tak mudah. Ini belum apa-apa, Bim. Bisa jadi ini baru sandungan kecil. Masih banyak tantangan di depanmu, menunggumu..."
Kurasakan pundakku terasa dingin. Air matamu merembes, membasahi dress ungu mudaku.
"Tolong aku, Nisa..."
"Meski tak banyak yang bisa kulakukan untuk membantumu, paling tidak aku ingin kau tahu bahwa kau tak sendirian. Kau punya aku. Ada aku yang akan menjagamu. Aku di sisimu untuk menggapai mimpi-mimpimu. Nah, tunggu apa lagi? Wujudkan saja mimpimu. Jangan pernah berhenti meyakini bahwa mimpimu akan tercapai..."
Isakmu makin keras.
Dan, hei, apakah penglihatanku salah? Biola tuamu--yang sejak tadi tersandar di tepi tempat tidurmu--dawainya bergetar-getar.
Aku menyeka air yang terasa penuh di kedua mataku agar tak menghalangi pandanganku. Masih tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat, aku mengucek mata. Kali ini bukan hanya dawainya yang menggetar-getar, tali busur biolamu pun ikut bergetar.
Aku tersenyum, mungkin nyaris setengah tertawa.
"Ayo kita main biola lagi..." bisikku di telingamu. *
---------------
Nurhandayani, lahir di Tanjungkarang, 12 Juni 1986, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Lampung.
Langganan:
Postingan (Atom)